Hubungan antara air dan energi ibarat dua sisi dari satu mata uang. International Energy Agency (IEA) dalam laporan World Energy Outlook (2021) menegaskan, 10% konsumsi air global digunakan untuk pembangkitan energi. Di sisi lain, sekitar 8% energi global dibutuhkan untuk memompa, mengolah, dan mendistribusikan air. Dalam konteks ini, krisis air bukan sekadar isu lingkungan, melainkan faktor determinan bagi ketahanan energi nasional.
Fenomena El Niño yang menguat di Asia Tenggara sejak 2023 mempercepat kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Bendungan menjadi kritis, irigasi gagal, dan pembangkit energi yang bergantung pada air menjadi tak stabil. Bukan hanya PLTA yang terdampak, tetapi juga PLTU yang menggunakan air untuk pendinginan. Studi yang diterbitkan dalam Nature Sustainability (2020) memperkirakan, ketergantungan terhadap air untuk energi membuat sistem kelistrikan dunia semakin rentan terhadap perubahan iklim.













