Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pagi belum benar-benar pecah di Pasar Legi. Seorang bintara pembina desa (Babinsa) berdiri di samping lapak pedagang tempe, memanggul dua karung beras bantuan. Sepatunya berderap menembus keramaian. Di papan iklan kota, baliho raksasa memperingati HUT ke-81 TNI dengan gagah: tentara yang presisi, alutsista modern, dan pertahanan canggih. Namun, di sudut pasar yang lembap itu, pertahanan negara terasa begitu membumi—bukan tentang jet tempur, melainkan tentang perut rakyat yang terisi.
Transformasi TNI dari Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional, hingga Tentara Profesional adalah riwayat panjang yang berkelok. Dalam lipatan sejarah, militer kita lahir bukan dari rahim birokrasi, melainkan dari letupan bambu runcing rakyat biasa. Sebagaimana dicatat oleh Salim Said dalam Tumbuh dan Berkembangnya Dwifungsi TNI (Jakarta: PT. Pustaka Sinartani, 1991, hlm. 45), karakter dasar militer Indonesia adalah kedekatan historis yang organik dengan rakyat. Militer lahir dari bawah, bukan dibentuk oleh negara yang sudah mapan.













