Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana nenek moyang kita pertama kali belajar sabda Nabi di tanah Nusantara? Jauh sebelum internet atau aplikasi kitab digital merambah ponsel pintar kita, perjalanan pembelajaran hadis di Indonesia menyimpan kisah panjang yang penuh keringat, perjalanan melintasi samudera, dan pergulatan intelektual yang luar biasa.
Jika kita tarik garis waktu ke belakang, tradisi literasi hadis di Nusantara tidak muncul begitu saja di ruang hampa. Pada abad ke-17, Syekh Abdurrahman Rauf Singkel pulang dari Haramain membawa angin segar pembaharuan. Dalam karyanya yang monumental, al-Maw’izhatul Badi’ah (Banda Aceh: Majelis Ulama Aceh, 1981, hlm. 12), ia tidak sekadar menerjemahkan teks, tetapi mengenalkan jaringan sanad hadis kepada masyarakat Melayu. Tradisi bertutur di surau-surau pesisir pun berubah—masyarakat awam yang semula hanya mendengar cerita lisan mulai diajak memahami validitas sebuah riwayat.













