Namun dalam perjalanan kariernya, ada sesuatu yang dirasa kurang yang membuatnya resah. Di awal-awal bekerja sampai 1 dasa warsa lebih bekerja di bank hanya rutinitas yang monoton dengan seabreg masalah. Ibu dari Diyaksa Azani Pratama dan Intan Denisya Putri itu merasa di dalam dirinya ada yang salah.
Jiwanya meletup-letup dan meronta ingin berbuat sesuatu untuk negeri yang berguna dan membawa berkah. Namun sebagai seorang isteri dan wanita timur yang menjunjung adat istiadat tradisional seakan gamang untuk berkiprah. Terjadi perang dalam sukmanya yang membuatnya gelisah.

“Sanggupkah aku menjadi ibu dan isteri yang baik sekaligus menjadi wanita karier dengan aktif di organisasi, tapi bisa memberi sumbangsih terhadap negeri,” jerit hati mantan Puteri Ideal itu bertanya pada diri sendiri.












