Hukum

Waspada Pelaku Perampasan Berkelompok

Sukabumi, BEDAnews.com

Akhir-akhir ini diwilayah hukum Polres Sukabumi Kota, mulai bermunculan pelaku perampasan berkelompok sebanyak tiga orang. Keluhan ini dikatakan, oleh seorang ibu atau nenek (72), penduduk Gedong Panjang, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu baru lalu kepada wartawan yang sedang menikmati sejumlah gorengan yang dijajakannya.

Sampai saat, hati Nenek masih terasa teriris-iris oleh anak-anak berandal itu. Memang semula, nenek tidak curiga terhadap ketiga anak-anak tersebut, betapa tidak mereka sopan dan mengajak bincang bincang seperlunya, membicarakan seputar hasil belanjaan nenek untuk berjualan gorengan disekitar masyarakat gedong panjang jalan doa ibu, belanjaan itu nenek muat di Angkutan Kota Jurusan Pasar Gudang-Jubleg, tapi nenek tidak sampai Jubleg.

Beberapa menit kemudian, salah satu dari pelaku meraba-raba punggung belakang nenek, spontan saat itu juga nenek hardik “Maneh Ulah Kurang Ajar Siah” (anda jangan kurang ajar ya, meraba raba punggung orang, suami saya saja sudah tidak pernah lagi berbuat seperti kamu-red), kata nenek dengan penuh kebencian.

Baca Juga  Jadwal Sidang di PN Bandung Tertunda, Usai Diketahui Satu Hakim Positif Corona

Lanjut nenek, setelah dimarahi, bersamaan dengan itu dari salah satu orang lagi menjatuhkan sejumlah uang logam pecahan Rp.1.000 dan uang kertas Rp.2.000 depan muka saya, lagi lagi saya tidak curiga maksud mereka menjatuhkan uang uangnya itu, saya sambil menengok kebelakang yang meraba raba punggung saya, kemudian saya bantu mengambilkan uang pecahan seribu dan duaribua yang berjatuhan, mereka sambil mempertanyakan turunnya dimana Nek, saya jawab dijalan doa ibu, oh disini nenek turunnya. Ya setiap belanja juga turunnya disini, ketus neneknya masam.

Bahkan ketiga orang itu dua diantaranya membantu menurunkan belanjaan saya sampai didepan warung, yang satunya sudah turun di jalan pertigaan, saat itu hati nenak juga mulai muncul kecurigaan kenapa satu orang lagi turun dipertigaan,  tidak ikut dengan rekan lainnya. Tapi Saya mau ngomong mulut terasa berat, tidak lama kemudian kedua penumpang itu pergi dengan mengucapkan assalamu alaikum.

Baca Juga  Perkara Tipikor Cisinga Tasikmalaya Divonis 1 Tahun, JPU Belum Eksekusi Para Terpidana

Beberapa saat, setelah menyusun hasil belanjaan dari pasar gudang dan ramayana, saya baru menyadari bahwa gelang emas 24 karat seberat 16 gram, yang dipakai ditangan kiri tidak ada, tapi ketiga cincin yang dijari tangan kiri dan kanan masih utuh, hampir saja tubuh saya terjatuh, namun terbantu dengan anak-anaknya yang berada diwarung, kemudian memberitahukan bahwa gelang nenek hilang, dari situlah mulai teringat yang berbuat irtu anak anak berandal yang menaiki angkutan kota bersama nenek dari pasar Ramayana. “Yang sangat disayangkan lagi sopirnya itu masih ada hubungan saudara sama saya,” keluh nenek.

Menurut Nenek, dengan mimik yang sangat emosi menjelaskan, terasa teriiris-irisnya hati saya ini, pasalnya gelang seberat 16 gram itu, dibeli dari hasil jerih payah menabung tahunan, setelah terkumpul saya belikan gelang, eh ternyata dirampas anak anak berandal.

Diakui nenek, sebelum terjadi perampasan gelang, ia dirinya pernah ditipu beberapa petugas yang mengaku dari dealer pertamina sukabumi, yang menawarkan isi ulang gas 3 kilogram, saya percaya karena kendaraan bok yang dibawanya parkir depan warung, setelah 6 tabung yang dibawa petugas itu sampai saat ini tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi. “Ya kalau dihitung hitung kerugian saya mencapai puluhanjuta rupiah,” keluh nenek. (M.YUNUS/AM.HAMZAH)

Baca Juga  Diduga Korupsi, Satreskrim Polres Ciamis Ciduk Kades Nagarajaya

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close