Setelah menikah Vivi dan Rinaldhy pindah ke Jakarta. Di ibukota mereka mulai kehidupan baru dengan berwiraswasta. Berbagai bisnis dicoba. Bengkel cuci mobil awal usaha. Terus merambah dan sukses dengan 7 cabang rumah makan “Bale Sunda”. Namun mahalnya sewa tempat dan melambungnya harga-harga, usaha rumah makannya, satu demi satu akhirnya ditutup karena rugi alias tak menghasilkan laba.
Sesuai dengan motto hidupnya bahwa “hidup adalah perjuangan, jangan pernah menyerah dengan kegagalan,” Vivi pun beralih ke usaha persalonan. Usaha salonnya ini pun yang sudah punya 2 cabang, akhirnya dihentikan. Hanya bertahan sekitar 2 tahunan.
Dan masa-masa suram pun mulai menerjang seakan tak terkendalikan. Keputusannya pergi haji dengan suami di tahun 2012 adalah langkah tepat untuk menenangkan pikiran. Namun musibah seakan bertubi-tubi datang menerjang kehidupan. Sepulang dari tanah suci justru mantan Wadir II ini harus menelan pil pahit kehilangan puluhan milyar akibat penipuan.













