Menurutnya, PTN saat ini menikmati sumber pendanaan ganda yang besar, baik dari APBN maupun dari penarikan dana masyarakat melalui kuota mahasiswa yang masif.
Lebih lanjut, Prof. Didik menyatakan bahwa, meskipun didanai negara selama lebih dari setengah abad, PTN di Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan universitas di Singapura dan Malaysia dalam jajaran elite global.
Ia menyayangkan praktik kebijakan yang membiarkan PTN menyerap mahasiswa sebanyak-banyaknya karena menciptakan persaingan potong leher yang mematikan peran PTS.
Dampak dari kebijakan ini, menurut Prof. Didik, adalah tergerusnya peran organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, serta berbagai yayasan pendidikan daerah yang telah berkontribusi mencerdaskan bangsa bahkan sebelum kemerdekaan.Ia mencatat bahwa saat ini masyarakat justru menanggung hingga 70 persen pembiayaan di PTN, yang membuat birokrasi kampus negeri semakin membesar namun tidak efisien.













