Cimahi, BEDAnews
Ujian Nasional (UN) ditengarai jadi penyebab hancurnya pendidikan moral. Pasalnya tak memberikan kontribusi bagi kuatitas pendidikan. “UN jadi ajang pendidikan moral hancur moral hancur, pemerintah dinilai tidak cerdas, karena siswa ditentukan keberhasilan dengan hanya empat hari ujian, sehingga banyak siswa yang stress, padahal factor keberhasilan siswa sangat banyak,” kata Jubaedah, seorang prkatisi pendidikan di Kota Cimahi, Jum’at (26/4).
Dia mencontohkan, ada sebuah SMP di Kota Bandung NEM nya sembilan semua, dibandingkan yang hanya tujuh namun hasilnya yang nemnya 9 semua ranking terakhir, sedangkan yang Nemnya 7 lebih baik, bahkan masuk tiga besar.
Ada lagi lulusan dari sebuah SMP negeri NEM nya tiga besar se SMA tapi pas mengikuti pelajaran, tidak ada apa-apanya. Akibat hal itu banyak berbagai pihak berusaha berlaku curang, ujung-ujungnya soal UN ada yang bocor, supaya siswa disebuah sekolah mendapatkan hasil UN yang baik, demi gengsi sekolah tersebut.
Pelaksanaan UN akhirnya berbentuk abu-abu belum memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan. UN dirasakan tidak dibutuhkan, namun yang lebih diharapkan adalah menyamaratakan sarana dan kualitas pendidikan. “Yang lebih mengetahui kualitas anak didik adalah para guru dan pendidik di sekolah masing-masing, bukan pemerintah,” ucap dia.
Menurutnya, akibat sarana dan kulitas pendidikan yang kurang merata lah yang harus lebih diperhatikan pemerintah, sedangkan kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Karena jika kondisi sarana dan kualitas yang masih belum merata, tak mungkin mutu lulusan sekolah akan maksimal sesuai harapan.
“Ada perbedaan yang mencolok tentang sarana pendidikan diberbagai daerah. Ha itulah yang mestinya digenjot pemerintah, bukannya menguji murid secara nasional untuk menentukan kelulusan,” tandas dia. (Bubun M)











