*Penutup dari Tepi Danau*
Pancing saya masih tergantung tenang. Air Situ Padengkolan tetap teduh. Tapi dunia di luar sana sedang tidak teduh.
Trump panik, bukan peduli. Ia berubah-ubah bukan karena hatinya luluh, tapi karena anggarannya terbakar, sekutunya membelok, dan kursinya mulai goyang. Di panggung global, kebaikan hati adalah komoditas langka. Yang melimpah adalah perhitungan.
Dan saat ini, hitungannya sedang tidak berpihak pada Trump. Eropa pergi ke arahnya sendiri. NATO retak. Perang berkepanjangan. Dan Amerika, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, benar-benar sendirian dalam sebuah peperangan besar.
Pertanyaan terakhir: apakah Indonesia akan terus menjadi penonton yang terharu-haru, atau mulai belajar membaca panggung ini apa adanya? ***












