Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad
(Penasihat Militer RI untuk PBB, New York 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – Saya menulis ini di tepi Danau Situ Padengkolan. Sunyi. Air tenang. Pancing mengapung. Tapi kepala saya sedang terbang ke Timur Tengah, ke New York, ke ruang Dewan Keamanan PBB tempat saya dulu bertugas.
Di sana, satu pelajaran melekat: negara besar tidak pernah bertindak karena hati. Mereka bertindak karena hitungan. Sekarang ramai pertanyaan: benarkah Trump ogah menolong Israel?
*Benarkah ia ingin segera keluar dari perang?*
Jawaban saya: tidak. Trump tidak pergi. Tapi ia panik.
Panik, dalam bahasa militer, bukan berarti takut. Tanda panik yang paling jelas adalah ketika seseorang kehilangan konsistensi. Sikapnya berubah-ubah tanpa pola yang bisa dibaca. Dan itu yang terjadi pada Trump akhir-akhir ini.












