Sebagai respons, Uni Eropa menyiapkan dana 150 miliar euro untuk memperkuat kemampuan pertahanan sendiri, sebuah skenario yang disebut “Plan B” jika AS benar-benar keluar dari NATO.
*Mengapa Ini Penting bagi Kita?*
Keengganan Eropa terlibat bukanlah kebetulan. Ini adalah kalkulasi politik yang matang. Mereka melihat perang ini sebagai “war of choice”, bukan “war of necessity” perang pilihan, bukan perang keharusan. NATO dibentuk untuk pertahanan kolektif, bukan untuk petualangan militer di Selat Hormuz yang tidak sesuai dengan hukum internasional.
Dan di sinilah letak ironi terbesar: Trump panik bukan karena kalah perang, tapi karena ditinggalkan teman-temannya sendiri.
Eropa tidak lagi mau mengikuti irama Washington. Mereka punya kepentingan sendiri. Mereka takut gelombang pengungsi baru. Mereka masih sibuk dengan Rusia di Ukraina. Dan mereka muak dengan gaya Trump yang tidak pernah berkonsultasi sebelum bertindak.












