Dalam kesempatan ini, Mikael juga menyampaikan rasa duka atas minimnya keterwakilan masyarakat Dayak dalam pemerintahan saat ini.
“Kami melihat negara tetangga seperti Malaysia, di mana beberapa tokoh Dayak menduduki posisi menteri. Sementara di Indonesia, kami masih menunggu adanya kehadiran tokoh Dayak di kabinet,” ungkapnya.
Ia menginginkan agar pemerintah pusat memperhatikan potensi dan pengalaman yang dimiliki oleh putra-putri Dayak, yang telah banyak berkontribusi di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik.
Mikael mengakhiri pernyataannya dengan harapan besar, agar presiden terpilih merespons aspirasi masyarakat Dayak dengan serius.
“Kami siap untuk mendukung pemerintah, tetapi kami juga berharap pemerintah dapat memberikan ruang bagi kami untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk bekerja sama demi kemajuan Indonesia,” tutupnya.













