Cerita Kakek bahwa Haji Said adalah orang kaya raya di Loireng tiba-tiba mendapat konteks ekonomi yang sangat konkret.
Kalau dihitung dengan upah buruh: puluhan tahun bekerja
Ada cara kedua yang bahkan mungkin lebih mudah dibayangkan.
Sebuah tulisan sezaman di surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden pada 13 Oktober 1904—tahun yang sama dengan pencurian di rumah Haji Said—membicarakan kehidupan ekonomi orang Jawa dan menyebut upah harian sekitar 20–25 sen gulden sebagai tingkat upah tenaga kerja yang rendah pada masa tersebut.
Mari kita pakai kisaran itu sebagai pembanding kasar.
Kalau seorang buruh memperoleh 25 sen sehari, uang 1.950 gulden sama dengan:
7.800 hari kerja.
Kalau upahnya hanya 20 sen sehari, nilainya menjadi:
9.750 hari kerja.
Andaikan seseorang bekerja 300 hari dalam setahun, jumlah tersebut setara dengan kira-kira 26 sampai 32,5 tahun upah seorang pekerja.













