Tentu saja ini bukan perbandingan yang presisi untuk semua pekerja Jawa. Upah berbeda menurut daerah, pekerjaan, keterampilan, musim dan sektor ekonomi. Tetapi sebagai ukuran orde besarnya, angka tersebut sangat membantu.
Bayangkan saja:
> Uang kontan yang hilang dari peti Haji Said dalam satu malam kira-kira setara dengan upah orang bekerja selama seperempat hingga sepertiga abad.
Itu menjelaskan mengapa pencurian tersebut cukup penting untuk diberitakan surat kabar.
Haji, saudagar, dan jaringan antarkota
Berita lama itu juga membuat kita melihat Desa Loireng secara berbeda.
Kita sering membayangkan desa Jawa pada awal abad ke-20 sebagai dunia yang relatif tertutup: petani hidup di desa, berproduksi untuk kebutuhan lokal, lalu hubungan dengan kota besar sangat terbatas.













