Garut, BEDAnews
Kendati minim fasilitas dan kurang perhatian dari pemerintah daerah setempat, jajaran Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Garut tetap bersiaga cepat tanggap dalam berbagai kejadian bencana yang kerap kali terjadi di Kabupaten Garut. Terlebih dalam kondisi musim hujan seperti sekarang.
“Dana pengerahan tak jelas dan lebih mengandalkan saku sendiri. Tapi yang penting bagi kita, dengan kondisi seadanya, rekan-rekan kita sehat, selamat dan dapat bergerak cepat meluncur ke lapangan ketika terjadi bencana," kata Koordinator Tagana Kabupaten Garut Fajar Hendarsyah kepada Bedanews.com, Selasa (9/4/2013).
Menurut Fajar, ada sejumlah fasilitas peralatan dan akomodasi dibutuhkan Tagana agar dapat bergerak cepat dan bekerja efektif terkait penanggulangan bencana. Mulai alat komunikasi, tandu, hingga akomodasi kendaraan. Sayangnya, perhatian dari Pemkab Garut sendiri sangat kurang.
Peralatan yang ada sekarang, seperti tandu- tandu keranjang, dan handy talky (HT) merupakan bantuan dari KPA Bontang Kalimantan Timur. Kelengkapan seragam pun bantuan dari pemerintah pusat.
Sedangkan untuk meluncur ke lapangan, sering kali kita harus pinjam kendaraan dari pihak lain atau dinas. Padahal kondisi medan geografis Garut ini luas dan berat. Banyak kejadian bencana terjadi di daerah, tak mudah dijangkau kendaraan roda empat, bahkan roda dua. Mendatangkan peralatan yang ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut juga tidak mudah karena prosedurnya terlalu jelimet, ujarnya.
Fajar mengatakan, kendati peran Tagana lebih ke manajemen kebencanaan, seperti pendampingan, pembuatan shelter, dapur umum, hunian sementara dan penanganan psiko sosial, namun kenyataan di lapangan sering kali lebih seperti tim SAR (Search And Rescue).
Itulah sebabnya kecepatan gerak Tagana butuh dukungan kelengkapan fasilitas peralatan dan akomodasi memadai. Dari semua kekurangan fasilitas tersebut, kata Fajar, paling dirasakannya mendesak menyangkut kelengkapan alat komunikasi HT dengan jarak jangkauan minimal 2-5 kilometer.
Dari sebanyak 10 buah HT dari pengadaan 2009, kini hanya tersisa 3 unit HT terbilang masih laik pakai. Padahal sedikitnya dibutuhkan 10 unit HT ditambah satu portablenya untuk memudahkan berkomunikasi antar anggota Tagana saat penanggulangan bencana. Setiap regu dari 55 anggota Tagana di Garut dibekali satu buah HT.
HT relatif rawan kerusakan. Dalam kondisi dan cuaca bagaimanapun ketika terjadi bencana, komunikasi tidak boleh putus. Sedangkan bila mengandalkan HP (handphone), bebannya terlalu berat. Tidak semua anggota memiliki kemampuan ekonomi sama," terangnya.
Pihaknya tambah Fajar, sering mengajukan bantuan alat komunikasi untuk penanganan bencana, namun tak pernah ada realisasi. “Di APBD murni dicoret, di ABT juga dicoret. Enggak tahu apa alasannya," kata staf Bantuan dan Perlindungan Sosial pada Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kabupaten Garut ini.
Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Fajar menegaskan, jajaran Tagana tetap berupaya maksimal turut membantu penanggulangan bencana, sesuai amanat UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. (Sighar)











