Garut, BEDAnews
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Syarikat Islam Indonesia (SII) menggelar Silaturahim Nasional dengan tema “Meningkatkan Peran dan Fungsi Ulama Syarikat Islam Indonesia dalam Membangun Kekuatan Jamaah, Demi Terwujudnya Kemerdekaan Sejati”, di Gedung Madrasah Ibdtidaiyah (MI) HOS Cokroaminoto, Koropeak, Garut Kota.
Kegiatan tersebut, bagi SII merupakan yang pertama semenjak SII berdiri pada tahun 1916, dan berlangsung dua hari mulai Jumat (06/04), hari pertama berupa pertama pemberian materi dan hari kedua Mudzakaroh atau pembahasan bersama, dengan peserta yang berasal dari DPC DPW yang ada di Indonesia diantaranya dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatera, Sulawesi Selatan, dll.
Dalam pembukaannya acara itu dihadiri oleh Ketua Umum PP SII, Presiden Ladznah Tafiziyah SII, Asda II Provinsi Jawa Barat, ketua DPC SII Kabupaten Garut beserta pengurusnya, serta tamu undangan lainnya.
Ditemui sesuai acara pembukaan, Presiden Ladznah Tanfiziyah Pusat SII, H. Muhammad Mufti, menjelaskan “Namanya mula mula Syarikat Islam (SI) kemudian SI berubah menjadi PSHTI atau Partai Syarikat Islam Hindia Timur, saat itu Indonesia belum merdeka, kemudian pada sumpah pemuda 1928 berubah menjadi PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), 1972 oleh pemerintah orde bari dipaksa berfusi maka berubah menjadi SI (PSII), pemilu 1999 namanya PSII 1905, tahun 2003 kita melakukan kongres dan namanya menjadi Syarikat Islam Indonesia (SII)”.
Diakuinya, esksitensi SII berkurang, orang pada saat ini cinta dunia takut mati, gara gara ngejar jabatan dan dunia, contohnya pada pemilu misalnya, orang bagi-bagi duit, demokrasi tidak benar, makanya orang yang terpilih pada pemilu kemudian berusaha mengembalikan modal, rakyat pun senang karena akan banyak orang bagi bagi duit, yang tentunya duit itu haram.
Karena orang orang di SII bukan pejabat yang banyak duit, maka beginilah keadaannya sekarang ini, makanya kemudian banyak orang yang memilih partai terutama partai besar/ berduit agar mereka bisa mencari duit dari sana, tutur H. Mufti.
Kita di SII itu niatnya beramal, kita memperjuangkan supaya Indonesia ini setelah merdeka menjadi merdeka sejati, karena saat ini kita dijajah oleh saudara kita sendiri, kalau dulu jepang dan VOC yang memeras kekayaan Indonesia, sekarang yang memeras adalah bangsa kita sendiri.
SII sendiri terus melakukan perubahan melalui pendidikan, amal sosial, santunan orang tidak mampu, bantuan bencana, cuma karena duit SII kalah, maka SII kalah sama mereka yang banyak duit, namun yang penting kita ikhlas dalam rangka menjalankan perintah Allah, tambah H. Mufti. (Yuyus)











