Dengan demikian, survey Global Fourishing Harvard ini tidak dapat secara gampang disimpulkan sebagai keberhasilan program pemerintah mensejahterakan warganya. Apalagi seringkali survey seperti ini memicu perdebatan karena melibatkan persepsi subyektif dan sebagainya. Namun demikian, survey ini mengingatkan kita kembali bahwa Indonesia sejak zaman dahulu kala sudah memiliki modal sosial yang kuat seperti: kebersamaan, kekeluargaan, gotong-royong, tolong menolong, relasi sosial yang kokoh, optimis dan selalu bersyukur apapun kondisinya, keyakinan terhadap nilai-nilai spiritualitas dan seterusnya. Modal sosial ini adalah bekal yang dapat bernilai produktif dan berdayaguna jika dimanfaatkan dengan baik untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Oleh karenanya, sebagai contoh, para pendiri bangsa kita bersepakat bahwa koperasi (yang memiliki nilai-nilai kebersamaan) dinyatakan menjadi soko guru perekonomian, karena memang sesuai dengan karakter Bangsa Indonesia. Jadi poin pentingnya, survey ini membantu kita mengingat bahwa Bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk berjuang bersama-sama mencapai kemajuan. Sekarang tinggal pemerintah dan masyarakatnya apakah dapat memaksimalkan modal sosial Bangsa Indonesia ini.












