• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป Surat di Tengah Sidang: Kala Bendahara Negara Pamit Lewat Dering Telepon

Surat di Tengah Sidang: Kala Bendahara Negara Pamit Lewat Dering Telepon

Asep Budi by Asep Budi
21 September 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Di warung kopi pinggir jalan Palmerah, Pak Mamat baru saja menyeduh kopi hitam saat siaran berita TV kabel menampilkan running text tebal: Purbaya Yudhi Sadewa Resmi Dicopot dari Menkeu. Mamat mengangkat alis, memutar kembalian telur lima ribu rupiah, lalu bergumam, “Lho, bukannya tadi pagi beliau lagi ditanya-tanya Bapak-Bapak DPD di Senayan?”

Pertanyaan Mamat adalah suara jutaan rakyat di panggung komedi politik kita. Hari itu, Senayan menyaksikan lakon absurd kelas wahid. Purbaya sedang membeberkan angka-angka fiskal di depan dengar pendapat DPD RI. Ponselnya berdering. Sebuah suara di balik telepon dari Istana mengabarkan bahwa masa baktinya telah usai. Ia merapikan berkas, mohon izin pamit dari ruangan, dan tak lama kemudian posisinya digantikan oleh Suahasil Nazara.

BeritaTerkait

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026

Pencopotan yang terjadi di tengah rapat paripurna legislatif bukan sekadar keputusan kilat kekuasaan; itu adalah cermin rapuhnya etika kepemimpinan publik. Mochtar Lubis dalam Catatan Kebudayaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001, hlm. 43) mengingatkan bahwa tabiat politik yang meminggirkan rasa hormat pada proses publik hanyalah potret dari kaburnya komitmen moral elite kita.

Bagi wong kecil seperti Pak Mamat, istilah reshuffle tidak ubahnya bongkar-pasang pemain bola. Namun, keputusan fiskal bukan sekadar permainan. Ketika pengelola kas negara diganti secepat mengedipkan mata di tengah krisis daya beli, yang berguncang adalah perut rakyat bawah. Karl Marx dalam Das Kapital: Kritik der politischen ร–konomie (Hamburg: Verlag von Otto Meissner, 1867, hlm. 112) menelanjangi bagaimana kalkulasi kapital dan elite sering kali mengabaikan stabilitas hidup kelas pekerja yang menggantungkan nasib pada kepastian ekonomi.

Dari kacamata ketatanegaraan barat, Max Weber melalui Wirtschaft und Gesellschaft (Tรผbingen: J.C.B. Mohr, 1922, hlm. 650) menegaskan bahwa rasionalitas birokrasi menuntut keteraturan prosedur demi menjaga kepatuhan publik. Sementara dalam khazanah pemikiran Islam, Aal-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sultaniyyah (Kairo: Dar al-Hadith, 2006, hlm. 28) menyoroti bahwa pengangkatan dan pemberhentian pejabat (azl al-wuzara) yang dilakukan tanpa pertimbangan ketenangan publik hanya akan melahirkan ketidakstabilan sosial (idhtirab).

Bahkan tradisi pemikiran Belanda melalui karya Cornelis van Vollenhoven, Het Adatrecht van Nederlandsch-Indiรซ (Leiden: E.J. Brill, 1918, hlm. 89), mencatat bahwa kebiasaan mengabaikan tata cara adat kehormatan dalam kepemimpinan lokal selalu memicu kekecewaan kolektif. Begitu pula tulisan Niccolรฒ Machiavelli dalam Il Principe (Firenze: Antonio Blado, 1532, hlm. 78) yang mengingatkan bahwa penguasa yang kerap berganti arah tanpa sinyal yang jelas akan kehilangan wibawa (majestas) di mata publik.

Rakyat tak butuh teater politik yang mendadak. Di pasar-pasar tradisional, pedagang butuh harga sembako yang stabil, bukan kejutan pergantian menteri di tengah ruang rapat. Dering telepon yang memotong rapat Senayan hari itu adalah pengingat pahit: di hadapan catur kekuasaan, urusan tata kelola negara kerap kali dikalahkan oleh hasrat politik instan.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).

Previous Post

Setuju Gibran di Makzulkan di MK, Tapi Gerakan Denny Dkk Jangan Bawa Misi Politik Siapapun

Next Post

Direktur RSUD Kapuas Turun Langsung ke Ruang Teratai, Pastikan Pelayanan dan Keselamatan Pasien Terjaga

Related Posts

Ragam

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026
Ragam

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026
Ragam

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara

7 November 2026
Ragam

DR. FACHRUL RAZI: PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO ADALAH MAKAR

7 November 2026
Ragam

KOGANA SUMUT DAN POLITEKNIK MEDAN JALIN MoU PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN

6 November 2026
Ragam

Dugaan Menyadap Presiden Prabowo, Muslim Arbi: Listyo Sigit dan Gerombolannya Layak Dihukum Mati

6 November 2026
Next Post

Direktur RSUD Kapuas Turun Langsung ke Ruang Teratai, Pastikan Pelayanan dan Keselamatan Pasien Terjaga

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021