Ini hanyalah penundaan masalah.
Israel memandang Iran bukan semata sebagai negara yang memiliki ambisi teknologi nuklir, melainkan sebagai rival strategis yang selama puluhan tahun berada dalam posisi permusuhan. Sejak Revolusi Islam 1979, hubungan kedua negara tidak pernah membaik secara fundamental. Ketegangan ideologis, persaingan geopolitik, serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan menjadi alasan mengapa Israel sulit mempercayai bahwa ancaman tersebut akan hilang hanya karena sebuah kesepakatan diplomatik.
Prof. Yuwono Sudarsono pernah mengingatkan bahwa diplomasi tidak boleh mengabaikan sejarah dan persepsi ancaman para pihak yang terlibat. Dalam konteks ini, persepsi ancaman Israel terhadap Iran dibangun oleh pengalaman panjang yang tidak mudah dihapus oleh optimisme diplomasi.













