Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – Dunia kembali menyaksikan sebuah babak diplomasi yang menentukan. Amerika Serikat dan Iran bertemu di Swiss, berunding, lalu berusaha mencari jalan keluar dari kebuntuan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Sebagian pihak menyambutnya sebagai keberhasilan diplomasi yang dapat menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Sebagian lainnya melihatnya sebagai upaya realistis untuk mencegah perang yang lebih besar.
Namun Israel tidak melihatnya dengan cara yang sama.
Bagi Israel, persoalannya bukan sekadar apakah Iran akan memiliki kemampuan nuklir hari ini atau beberapa tahun lagi. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah perjanjian tersebut benar-benar menghilangkan ancaman atau hanya menundanya dengan risiko yang lebih besar pada masa depan.













