Habiburokhman mengingatkan jalan menuju 2045 tidak tanpa hambatan.Ia menyoroti fenomena post-truth dan politik instan yang kian menguat. Arus informasi bias dan dangkal berpotensi melemahkan fondasi intelektual dan ideologis kader.“HMI tidak boleh terjebak romantisme gerakan masa lalu. HMI harus jadi gerakan rakyat yang menyuarakan kebenaran berbasis argumentasi kuat, bukan sekadar ikut arus,” ujarnya.
Ia juga menolak pendekatan kekuasaan represif sebagai jalan pintas pembangunan. Stabilitas, menurutnya, harus dijaga lewat demokrasi yang sehat, bukan “tangan besi” yang berisiko merusak tatanan jangka panjang.
HMI: Rumah Pulang yang Inklusif
Secara personal, Habiburokhman menyebut HMI sebagai “rumah pulang”, tempat berdialog tanpa sekat kepentingan. Kekuatan HMI, katanya, terletak pada karakter inklusif yang tidak sektarian serta jejaring alumni yang tersebar di berbagai lini kekuasaan dan profesi.“Di HMI, kita bisa berbeda tanpa harus terpecah. Ini kekuatan yang tidak dimiliki banyak organisasi lain,” jelasnya.













