Bandung,BEDAnews.com
Senat Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung mempertanyakan kinerja Wakil Dekan II Dr.Wawan Hernawan yang terkesan”mandul” dan jalan ditempat (haben nagen} terhadap program program fakultas. Meski, sudah menjabat dua peride, kinerja wadek II mengundang banyak tanya dari publik fakultas.,sebab,jabatan wadek II sangat strategis yang menyangkut kesejahteraan, pembinaan,kepegawaian dan kemajuan fakultas. Wawan dinilai tidak menjalankan amanah sebagai mana mestinya sebagai wakil dekan II. “ Kami anggap wadek II tidak becus kerja, ia tidak menjalankan tugas dan fungsi sebagai mana mestinya, selama di jabat beliau tidak ada perubahan yang signifikan bagi fakultas Ushuluddin,”Tegas Sekretaris Senat Ushuluddin Dr.Cucu Setiawan dalam siaran Pers nya kepada Ekpos.com di Bandung belum lama ini.
Cucu juga mempertanyakan anggaran untuk kesejahteraan senat fakultas, yang sampai saat ini jauh dari layak bahkan di abaikan kebutuhannya.” Jangan kan untuk kesejahteraan para anggota senat dan dosen, dana oprasional juga kadang terhambat,” ujarnya.
Sebelumnya,dari informasi yang di himpun,dalam forum senat fakultas Cucu setiawan mengeluarkan kritik pedas kepada Wadek II Wawan Hernawan atas kinerjanya yang mengecewakan.
Sementara, salah seorang anggota senat fakultas Ushuluddin menyayangkan pengelolaan anggaran di fakultas yang tidak transparan terbukti dengan berlakunya sistem keuangan sentralistik di wadek dan TU. Berimbas terhambatnya dana oprasional kegiatan fakultas terutama di tingkat jurusan.” Liat saja ditingkat jurusan sebagai ujung tombak kegiatan, perlu anggaran yang memadai.Kami dilibatkan tapi kami kami tidak diberi kewenangan dalam hal anggaran kegiatan,padahal difakultas lain sudah diberlakukan otonomi jurusan.” Katanya dengan nada kecewa.
Senat juga mengkritik peran Dekan Ushuluddin Prof.Dr.Rosihon Anwar yang terkesan “tutup mata” terhadap permasalahan yang terjadi di fakultas.
Dampak dari kekecewaan masalah sistem keuangan yang tidak transparan, para dosen mengambil inisiatif melakukan “Udunan” bersama untuk memenuhi kebutuhan makanan ringan di ruang dosen.
“Dari pada ribet, ngandelin TU, ya kita ambil inisiatif udunan beli makanan ringan dengan cara di gilir tiap harinya, “ ujar salah seorang dosen.
Salah seorang Alumni Ushuluddin, (Deddy H) menyanyangkan kondisi fakultas yang tidak kondusif, kondisi tersebut tidak lepas dari peran dan sikap Dekan Ushuluddin yang tidak tegas dalam memimpin fakultas, “ pemimpin yang baik harus responsif terhadap permasalahn yang terjadi di bawah, tegas, cepat dan akurat dalam mengambil keputusan,” katanya.
Sampai berita ini di luncurkan wadek II belum bisa dikonfirmasi. (hargib)











