Apa yang terjadi di Selat Hormuz saat ini adalah pendahulu klasik perang skala penuh: saling klaim pelanggaran, tidak ada mekanisme penegakan, retorika pemimpin yang kontradiktif dengan aksi di lapangan, serta kedua pihak samasama mengklaim bertahan siap menyerang.
Saya tidak meramalkan perang pasti terjadi. Sejarah mengajarkan bahwa eskalasi sering dihentikan pada menitmenit terakhir karena kalkulasi rasional. AS dan Iran sama-sama tahu biaya perang total akan sangat mahal.
Tetapi sebagai mantan prajurit, saya tidak bisa hanya bersandar pada harapan. Saya harus membaca peta dengan jujur: mesin perang ASIran sedang memanas ke ambang kritis dan Selat Hormuz dalam status darurat merah.
PBB harus bertindak. Indonesia harus bersiap. Dan kita semua sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat tidak boleh hanya menjadi penonton pasif sementara dua kekuatan asing mempertaruhkan stabilitas global demi kepentingan sempit mereka.













