Untuk memberi efek jera kepada para koruptor, bahkan sampai tujuh turunannya, Terorist Jawa Barat mendesak pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk sesegera mungkin menerbitkan piagam penghargaan buat para koruptor.
“Dengan maraknya para koruptor di Indonesia, yang diduga melibatkan oknum-oknum pejabat tinggi dipusat maupun didaerah, Ini harus dilakukan agar memberi efek jera kepada para pelakunya, bahkan bila mungkin sampai tujuh turunannya," tegas Ketua Umum Terorist Jawa Barat Tatan Sophian Senin (18/6) di Cimahi.
Dikatakannya, para koruptor tidak cukup hanya diganjar dalam jeruji besi saja (penjara), tapi harus diberikan piagam penghargaan. Piagam ini, lanjut dia, harus diberikan kepada keluarganya pula, agar mereka malu tujuh turunan.
Selain diberikan piagam, Tatan pun menyarankan kepada SBY, bahwa pemerintahan SBY juga harus berani untuk membuat museum dan monument bagi para koruptor.
Dengan adanya monumen ini, kata Tatan, maka bangsa Indonesia akan jera dan menjauhi korupsi, karena akan malu jika namanya masuk dalam museum. "Nanti para koruptor itu namanya akan diabadikan dalam museum tersebut. Dan ini bisa dijadikan sebagai wahana wisata yang menarik," jelasnya.
Di dunia ini belum ada satu negara yang membangun musieum koruptor, dan ini kesempatan bagus untuk Indonesia, sebagai sejarah baru pencetus utama, untuk segera mendirikannya. Saya pikir langkah ini lebih efektif dalam membasmi para koruptor di ibu pertiwi.
Hal senada diungkapkan Sekjen Terorist Jabar, Muhamad Amin. Selama ini para pejabat hanya berteriak untuk perbaikan gizi. "Ini fakta bukan argumen buta, bahwa sebagian koruptor yang sekarang mendekam itu banyak berasal dari aktivis anti koruptsi, katanya.
“Koruptor juga merupakan anti tesis dengan budaya bangsa ini. Nilai nilai luhur kearifan lokal tidak lagi mewarnai sikap dan tindakan bangsa ini. Pokoknya habisi koruptor tanpa kompromi, kembalikan lagi budaya malu sebagai bentuk pencegahan wabah korupsi," tandasnya. (M.Fachry)












