Pemerintah kerap menepuk dada ketika grafik pengangguran menunjukkan tren menurun. Padahal, jika dibedah lebih dalam, penurunan tersebut didorong oleh lonjakan angka underemployment (setengah penganggur) dan pekerja mandiri di sektor gig economy. Pekerjaan berbasis aplikasi ini sering dipoles dengan narasi manis kemandirian dan fleksibilitas jam kerja. Padahal, model ini secara terselubung memindahkan seluruh risiko bisnis—mulai dari depresiasi aset, biaya bahan bakar, hingga jaminan kesehatan—ke pundak pekerja.
Sebagaimana dipetakan secara tajam oleh Guy Standing dalam The Precariat: The New Dangerous Class (2011, hlm. 25–30), fenomena ini melahirkan kelas sosial baru yang rentan bernama prekariat—kelompok masyarakat yang bekerja tanpa kepastian pendapatan, tanpa jaminan sosial, dan tanpa jalur karier yang jelas.













