Statistik resmi acapkali menjadi candu yang meninabobokan para pengambil kebijakan. Mengukur kesehatan pasar kerja sekadar dari status “bekerja atau tidak” tanpa memperhitungkan kelayakan upah, keamanan kerja, dan produktivitas adalah cara pandang yang sempit. Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999: 94), menegaskan bahwa pengangguran dan keterpaksaan bekerja jauh di bawah kapasitas asli seseorang bukan sekadar hilangnya pendapatan, melainkan bentuk perampasan kapabilitas dasar manusia untuk berkembang secara utuh.
Sudah saatnya reorientasi kebijakan ketenagakerjaan nasional bergeser dari sekadar merayakan angka kuantitas menuju pembenahan kualitas. Tanpa strategi reindustrialisasi yang matang dan revitalisasi sektor bernilai tambah tinggi, kita hanya sedang menipu diri sendiri dengan dongeng indah angka statistik. Sementara di jalanan, ribuan sarjana akan terus mengayuh pedal dan memutar gas, menjemput masa depan yang tak pernah pasti.***













