Filsafat Santri: Modernitas yang Berjiwa
Santri tidak menolak modernitas. Penolakan terjadi Ketika modernitas kehilangan jiwa dan nilai. Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim kontemporer menyampaikan , “Modern science has given us power, but without wisdom, power becomes destruction.” Kemajuan ilmu tanpa kebijaksanaan hanya akan menimbulkan kekacauan ekologis dan spiritual. Karena itu, tugas santri adalah menginsankan teknologi , menjadikan inovasi sebagai jalan untuk mengabdi, bukan untuk menaklukkan. Santri modern memahami bahwa dunia digital memerlukan keseimbangan antara artificial intelligence dan spiritual intelligence. Ketika dunia berlomba menciptakan mesin cerdas, santri berusaha mencetak manusia arif. Mereka menghadirkan keseimbangan antara logika dan nurani, antara data dan doa. Sebagaimana Buya Hamka sampaikan , “Kemajuan bukanlah melupakan akar, tetapi menumbuhkannya agar cabangnya menjulang ke langit.” Maka, santri hari ini seperti pohon yang akarnya tertanam di tanah tradisi, namun daunnya menyentuh cakrawala untuk masa depan.













