Oleh: Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung,Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah kota bandung)
Ketika dunia modern bergerak dengan kecepatan algoritma dan kecerdasan buatan, suara lantunan doa dari pesantren tetap bergema dengan ritme yang tak berubah, tenang, dalam, dan penuh makna. Suara itu seolah mengingatkan kita bahwa di tengah revolusi digital, masih ada kekuatan batin yang menjadi penopang peradaban yakni kekuatan adab, ilmu, dan spiritualitas yang lahir dari rahim pesantren. Hari Santri Nasional tahun 2025 yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.” Sebuah tema tidak hanya sekadar slogan, tetapi sebuah visi kebangsaan dan keummatan. Para santri dipanggil untuk tidak hanya menjaga kemerdekaan dalam arti politik dan fisik seperti di masa lampau, tetapi juga memerdekakan manusia dari ketertinggalan moral dan krisis nilai di era global. Kini, menjadi santri tidak lagi identik dengan sarungan dan dunia kitab kuning semata, tetapi juga dengan dunia digital, inovasi sosial, dan globalisasi nilai. Santri zaman now bukanlah sosok yang asing dengan teknologi, tetapi mereka yang menempatkan teknologi di bawah kendali nilai.













