Dari Papan Tulis ke Layar Digital
Pesantren yang dulu identik dengan kitab kuning dan papan tulis kini menjelma menjadi pusat literasi digital yang mencetak santri multitalenta. Mereka tak hanya fasih membaca Ihya’ Ulumuddin, tapi juga memahami cara kerja algoritma media sosial. Mereka berdiskusi bukan hanya di serambi masjid, tapi juga di forum daring lintas negara. Fenomena santri konten kreator, santri coder, hingga santripreneur adalah bukti nyata bahwa pesantren telah beradaptasi dengan zaman. Dengan tetap memegang nilai ikhlas, tawadhu’, dan khidmah, para santri kini mengisi ruang-ruang publik digital dengan konten yang mencerahkan, bukan menyesatkan; mendidik, bukan memprovokasi. Santri zaman now sadar, dakwah tidak lagi cukup lewat mimbar, tapi juga melalui mikrofon podcast, kamera ponsel, dan ruang virtual yang bisa menjangkau dunia. Mereka membumikan Islam dengan bahasa kreatif yang dapat dipahami semua generasi dari TikTok hingga ruang akademik global.










