
Prof. Lilis membuka orasi dengan memetakan realitas 2026: kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis iklim, geopolitik, hingga krisis moral-spiritual.
“Pertanyaannya bukan seberapa cepat teknologi berkembang, tapi apakah manusia mampu mengarahkannya untuk kemaslahatan,” ujarnya.
Ia menyorot 4 tantangan krusial: politisasi identitas yang memecah belah, radikalisme digital yang menyasar gen Z, krisis toleransi sampai level keluarga, serta praktik “fatwa instan” tanpa otoritas keilmuan di media sosial.Di titik inilah lulusan Studi Agama-Agama SAA dituntut maju.
“Kalian bukan tukang hafal ayat atau pencatat sejarah. Kalian agen metodologis yang terlatih baca teks kritis-hermeneutis, memahami fenomena agama sosiologis-antropologis, dan membandingkan tradisi secara objektif untuk mencari titik temu kemanusiaan. Kompetensi ini tidak akan tergantikan algoritma,” tegasnya.













