Meski demikian, Rinna mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi. Tidak semua keluarga memiliki kesiapan yang sama dalam mendampingi anak selama dua hari libur. Bagi sebagian orang tua dengan keterbatasan waktu dan sumber daya, tambahan hari di rumah justru bisa menjadi persoalan baru.
“Perlu dilihat bahwa kebijakan ini tidak hanya soal sekolah, tetapi juga kesiapan ekosistem keluarga dan masyarakat,” tegasnya.
Perubahan dari enam hari menjadi lima hari sekolah juga berdampak pada durasi belajar harian yang lebih panjang. Kondisi ini menuntut kesiapan sarana dan prasarana, mulai dari ruang kelas yang nyaman, sirkulasi udara yang baik, hingga fasilitas sanitasi yang memadai.
Tanpa dukungan infrastruktur yang layak, Rinna menilai efektivitas pembelajaran justru berpotensi menurun.













