Oleh: Sayed Junaidi Rizaldi **
JAKARTA || Bedanews.com – Isu reshuffle kabinet bukan lagi soal kebutuhan, tetapi soal keberanian yang selama ini terlihat belum benar-benar diuji. Publik tidak butuh sinyal, publik butuh tindakan.
Dalam sistem presidensial, Presiden memiliki kuasa penuh untuk memilih dan mencopot pembantunya. Jika kabinet masih diisi oleh figur yang bekerja tanpa arah, lamban, atau sekadar menjaga posisi, maka masalahnya bukan hanya pada menteri, tetapi pada keberanian Presiden itu sendiri.
Prabowo Subianto tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan stabilitas politik. Stabilitas yang dibangun di atas kompromi berlebihan bukanlah kekuatan, melainkan ilusi yang menunda kegagalan.
Mari jujur, sebagian menteri hari ini bukan solusi, tetapi sumber stagnasi. Minim terobosan, lemah koordinasi, dan gagap membaca arah kebijakan Presiden. Mereka bukan sekadar tidak efektif, mereka menghambat.













