Dan setiap hari mereka dipertahankan, itu adalah hari di mana negara berjalan lebih lambat dari seharusnya.
Ini bukan lagi soal etika politik, bukan soal balas jasa, dan bukan soal menjaga perasaan koalisi. Ini soal tanggung jawab terhadap rakyat. Presiden dipilih untuk memimpin, bukan untuk menoleransi ketidakmampuan di lingkar terdekatnya.
Lebih berbahaya lagi, reshuffle yang setengah hati justru mengirim pesan keliru, bahwa ketidakmampuan masih bisa dinegosiasikan, bahwa kinerja bisa dikompromikan, dan bahwa kekuasaan ragu menggunakan otoritasnya sendiri.
Dalam situasi global yang penuh tekanan dan dinamika domestik yang semakin kompleks, keraguan bukan lagi kesalahan kecil, itu adalah kemewahan yang mahal dan berisiko.
Jika memang ada menteri yang gagal, copot. Jika ada yang tidak sejalan, ganti. Jika ada yang menjadi beban, singkirkan. Sesederhana itu.













