Persoalan ini mengingatkan kita pada peringatan Bung Hatta bahwa kemerdekaan politik tidak ada gunanya jika tidak disertai dengan kemerdekaan ekonomi bagi seluruh rakyat (Mohammad Hatta, Ekonomi Kerakyatan, Jakarta: Pustaka LP3ES, 1979, 45). Jika ditarik ke dalam bingkai teori pembangunan, kesenjangan antara retorika slogan nasional dan realitas sosial sering kali berakar pada struktur distribusi yang belum merata.
Sebagaimana diperingatkan oleh Gunnar Myrdal, “A national slogan risks becoming an empty ritual if institutional reforms fail to translate symbolic unity into material equality”—slogan nasional berisiko menjadi ritual kosong jika reformasi kelembagaan gagal menerjemahkan persatuan simbolis menjadi kesetaraan material (Asian Drama: An Inquiry Into the Poverty of Nations, New York: Pantheon, 1968, 112).













