Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap kali bulan Agustus tiba, jalan-jalan di pelosok negeri kembali dibalut warna merah dan putih. Di gapura desa hingga papan reklame perkotaan, logo angka 81 berdiri megah menyapa siapa saja yang lewat. Di sampingnya, tertera slogan yang berbunyi mantap: Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Sebuah kalimat yang indah dan sarat mimpi besar. Namun, ketika garpu menembus piring makan malam keluarga biasa di pinggiran kota, slogan itu kerap terasa seperti bisikan dari tempat yang sangat jauh.
Di pasar-pasar rakyat, percakapan sehari-hari bergerak di sekitar angka-angka yang lebih konkret: harga beras yang terus merayap naik, biaya pendidikan anak yang membesar, hingga kesempatan kerja yang terasa semakin menyempit. Angka 81 melambangkan perjalanan delapan dekade lebih satu tahun sejak proklamasi dikumandangkan. Namun, sebuah pertanyaan mendasar kerap hinggap di benak masyarakat: sejauh mana makna berdaulat, adil, dan makmur itu telah hadir di dalam kehidupan nyata?













