Oleh: Ahmad Rusdiana
Rabu Sore 1 Juni 2022, pukul 16.23, tiba-tiba HP-ku berdering. ehh si Abah (nama panggilam akrab). mengirim WA, dengan ucapan: “Wilujeng purna tugas ti UIN SGD Bandung, mugia dharma bakti anu parantos dilaksanakeun tiasa manfaat kangge generasi penerus, sareng teruskeun pengabdianna di masyarakat, dugi ka tungtung perjuangan. Aamiin Yra”. itu kebiasaan si abah ketika ada yang Ulang Tahun, ada yang meninggal Dunia, TUM cair dan sejenisnya, baik suka maupun duka beliu menjadi informan terdepan. Terima kasih Bah…. (memang sebelumnya pernah saya tanya …Bah ada berapa orang teman kita yang pensiun per tanggal 1 Juni 2022 bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila bah…?).
Asosiasi kata yang timbul ketika orang mendengar kata purna bakti/pensiun adalah kesepian, kesendirian, kehilangan jabatan, tidak di· hormati, tak berdaya, dan mulai timbulnya berbagai gejala distress. Akronim MPP diartikan sebagai mari pelan-pelan. Reaksi-reaksi yang bersikap positif menunjukkan bahwa masa pensiun adalah masa kebebasan karena lepas tanggungjawab, masa masa bulan madu ke dua, dan masa-rnasa lebih dekat dengan anak dan cucu. Diyakini atau tidak bahwa dalam kehidupan manusia, mengalami perubahan-perubahan, telah menjadi sunatullah, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja selalu di hadapi. Hal itu merupakan konsekuensi dari gerak dinamis itu sendiri. Memang wajar, karena terjadi perubahan yang mencolok antara masa sebelum dan masa purna bakti adalah aktivltas. Jika semasa bekerja, aktlvitas secara rutin pergi ke kantor hampir dilakukan selama kurang lebih 8 jam (jam 07.00 sampai dengan jam 16.00), maka dalam masa puma bakti setelah bangun tidur, nyaris tidak mempunyai aktivitas yang berarti. Apalagi para suami yang selama ini selalu diperlakukan istri dengan istimewa dan hampir tidak mempunyai aktivitas untuk membantu pekerjaan rumah tangga, maka hari-hari tanpa aktivitas yang bermakna terasa panjang sekali. “Seorang peserta pelatihan pernah menyatakan bahwa sebenarnya masalah pensiun bukan terletak pada uang tetapi lebih pada pemilihan aktivitas pengganti. Apa yang akan saya kerjakan nanti? (Fadila, 2000).













