Oleh: Sugiyanto (SGY) – Emik (Pengamat Ibu Kota)
JAKARTA || Bedanews.com – Sungguh saya sebenarnya enggan menulis artikel pada bulan Ramadan, karena lebih memilih fokus pada ibadah. Bahkan untuk menghadiri acara buka puasa bersama pun saya sering menolak, kecuali jika benar-benar penting. Bukan karena tidak menghargai undangan, tetapi karena waktu di bulan Ramadan terasa sangat berharga dan terbatas.
Maksudnya, setiap detik terasa bermakna, sehingga kita tidak leluasa menggunakan waktu seperti pada bulan-bulan lainnya. Dalam Ramadan, pola hidup kita berubah secara alami. Kita dipaksa untuk tidur lebih awal sekitar pukul 21.00–22.00 WIB agar memiliki waktu istirahat yang cukup untuk bangun sahur sekitar pukul 02.30–03.00 dini hari.













