Perjumpaan hangat berikutnya terukir di Tangerang Selatan, saat kami menghadiri sebuah pesta pernikahan kerabat. Di tengah kerumunan undangan yang berdesakan, Fathan tetap meluangkan waktu menyapa, melempar gurauan segar, dan menanyakan kabar dinamika pendidikan serta dakwah yang saya geluti di Yogyakarta. Baginya, persahabatan tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang sedang dipangku, melainkan dari ketulusan merawat silaturahmi.
Sepak terjangnya di panggung politik nasional hingga kursi auditor utama keuangan negara mencerminkan integritas yang kian langka. Fathan membuktikan bahwa kekuasaan bisa dijalankan dengan nurani yang bersih. Sebagaimana diulas tajam oleh sosiolog politik Gerry van Klinken dalam Minorities, Modernity and the Emerging Nation: Christians in Indonesia, a Biographical Approach (KITLV Press, Leiden, 2003, hlm. 145), keteladanan seorang pemimpin di negeri ini sangat bergantung pada kemampuannya merawat akar kerakyatan dan empati moral di tengah sistem birokrasi yang dingin. Fathan melakoninya secara paripurna; ia adalah teknokrat keuangan yang bernapaskan kebudayaan santri.













