Masih lekat dalam ingatan tatkala kami berjumpa dalam kehangatan Acara Halal Bihalal Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) di Resto Bandar Jakarta. Di tengah keriuhan suasana silaturahmi perantau asal Demak, Fathan hadir tanpa sekat pengawalan yang kaku. Ia duduk bersimpuh dalam keakraban, berdiskusi cair tentang kemajuan kampung halaman, merajut simpul-simpul kebersamaan kaum diaspora Demak dengan senyum khasnya yang tidak pernah berubah sejak dulu.
Tak hanya di ruang publik kuliner pesisir Jakarta, kehangatan itu juga saya rasakan tatkala bertamu langsung ke rumah dinasnya di Jakarta. Di balik kediaman resmi seorang pejabat negara, Fathan menyambut para tamu dengan tradisi kesahajaan kaum santri. Meja tamu itu kerap menjadi saksi bisu diskursus-diskursus kritis mengenai arah kebijakan fiskal, nasib wong cilik, hingga penguatan jaringan umat. Ia tahu betul cara membedakan antara atribut kekuasaan dan esensi pengabdian.













