JAKARTA || Bedanews.com — Nahdlatul Ulama (NU) dinilai perlu menjadikan momentum pasca-Muktamar sebagai titik balik untuk memperkuat agenda modernisasi pesantren dan pemberdayaan masyarakat nahdliyin. Reorientasi tersebut dinilai penting agar kekuatan sosial NU tidak berhenti sebagai modal politik dalam setiap kontestasi kekuasaan, tetapi berkembang menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, teknologi, dan pembangunan masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., dalam catatan reflektifnya mengenai arah ekonomi politik NU dan masa depan pesantren.
Menurut Didik, pesantren sejak lama memiliki posisi strategis dalam perjalanan transformasi sosial Indonesia. Gagasan modernisasi pesantren bahkan telah muncul sejak sekitar empat hingga lima dekade lalu, ketika sebagian besar pesantren dan masyarakat pedesaan masih menghadapi persoalan kemiskinan, keterbatasan pendidikan dan rendahnya keterampilan.













