Muhlas menilai di era kecerdasan buatan (AI), disrupsi teknologi, dan krisis moral, kehadiran filsafat Islam justru semakin vital. Filsafat dibutuhkan untuk memberikan landasan etika pembangunan, bukan sekadar mengejar pertumbuhan material.
“Filsafat Islam harus terlibat langsung dalam pembangunan. Memberi arah agar pembangunan tidak kehilangan jiwa. Memberi solusi atas tantangan kehidupan seperti krisis identitas, degradasi moral, hingga problem kemanusiaan yang tidak bisa dijawab oleh teknologi semata,” paparnya.
Melalui simposium yang digelar, para peserta sepakat merumuskan rekomendasi agar kajian AFI tidak berhenti di menara gading akademik, tetapi hadir memberikan solusi praktis: menjadi penjernih pemikiran keagamaan yang moderat, penjaga etika di ruang publik, dan pemandu moral di tengah masyarakat yang berubah cepat.













