Ditambah lagi, dikotomi akut antara ilmu agama dan sains masih dipelihara. Upaya integrasi-interkoneksi ilmu yang diklaim telah berjalan, dinilai hanya menyentuh kulit luar, gagal menyentuh akar epistemologi.
“Solusinya adalah pemulihan paradigma tauhid melalui scientia sacra. Menempatkan keesaan Tuhan sebagai pusat seluruh cabang pengetahuan,” tegasnya.
Ia mengecam cara pandang pragmatis yang menilai filsafat hanya dari kacamata pasar kerja. Baginya, filsafat adalah tulang punggung peradaban berpikir.
“Filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia,” katanya.
Filsafat untuk Pembangunan dan Solusi Kehidupan
Menurut Presidium ASAFI Dr.Muhlas M.Hum menegaskan bahwa Munas ASAFI III Lebih dari sekadar wacana kampus, tetapi Munas juga menegaskan peran strategis filsafat dalam pembangunan nasional dan menjawab tantangan kehidupan.













