Ironis sekali di tengah gaji DPR yang gembar gembor menjadi buah bibir masyarakat karena gaji selangit. Sementara para guru honorer masih tetap berjuang menyuarakan hak-haknya untuk mendapatkan kenaikan gaji. Bahkan, tak jarang pahlawan tanpa tanda jasa tersebut, mendapatkan gaji yang tak manusiawi, sementara di pundaknya terdapat tanggung jawab negara untuk menjadi jembatan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Seperti yang dikutip dari laman kompas.com, seorang guru honorer bernama Imas warga Kecamatan Kota Baru, Karawang sudah 17 tahun mengabdi dan setiap pemerintah membuka penerimaan calon ASN ia selalu ikut mendaftar, namun selalu gagal. Meski sering kali gagal dirinya tak patah arang untuk terus mencoba meskipun dalam kondisi tubuhnya sedang sakit stroke. Masih dikutip dari kompas.com, kisah seperti dialami Sutardi (58), seorang guru honorer di wilayah terpencil di Kampung Legok Ngenang, Desa Ciroyom, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang selama ini mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Timuhegar. Hampir selama 18 tahun mengajar, Sutardi hanya mendapatkan upah Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per bulan dari uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang disisihkan. Tentu saja honor tersebut tak bisa mencukupi kebutuhan hidup Sutardi dan anak-anaknya. Sehingga harus terpaksa menyambi menjadi kuli bangunan. (Kompas.com, 22/09/21)













