Sistem Orde Baru dianggap keras, kebebasan dibatasi, dan korupsi dinilai merajalela. Walaupun kemudian fakta membuktikan era setelahnya korupsi justru lebih buruk.
Sejarah bukan arena penghakiman moral mutlak. Di sini kedewasaan bangsa diuji: mampu membedakan antara pengakuan jasa dan pembenaran moral. Presiden Soeharto tidak harus disucikan seperti malaikat. Akan tetapi juga tidak layak terus dijadikan kambing hitam atas luka masa lalu.
Merekonsiliasi diri dengan sejarah berarti menerima semua fase kekuasaan —baik, buruk, dan kelam— sebagai bagian dari perjalanan bangsa. Jika suatu hari gelar pahlawan diberikan kepada Presiden Soeharto, itu seharusnya bukan sekadar penghargaan personal. Melainkan simbol perdamaian nasional.
Simbol bahwa bangsa telah menyelesaikan dendam sejarahnya dan siap melangkah ke depan dengan kesadaran utuh. Memahami bahwa setiap zaman memiliki logika moral dan tantangan berbeda adalah inti dari rekonsiliasi.













