Indonesia memiliki sumber daya, pengalaman sejarah, dan modal kebangsaan yang besar. Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa kepemimpinan berintegritas, institusi yang kuat, ekonomi berkeadilan, dan persatuan yang terpelihara.
Prahara ketiga bukanlah takdir Indonesia. Namun, ia dapat menjadi risiko nyata apabila kelemahan internal dibiarkan bertemu dengan tekanan eksternal tanpa kesiapan dan kepemimpinan yang memadai.
Seorang negarawan tidak bertugas menakut-nakuti rakyat dengan ramalan kehancuran. Ia berkewajiban membaca ancaman, menyampaikan kebenaran, dan mengingatkan bangsa sebelum terlambat.
Jangan menunggu prahara datang untuk menyadari pentingnya persatuan. Jangan menunggu kedaulatan melemah untuk memahami arti kemandirian. Dan jangan menunggu sejarah berulang untuk belajar dari kesalahan masa lalu.













