Maka hasil amatan kebijakan sosial dan politik secara seksama yang dihubungkan dengan berbagai gejala perkembangan dampak kekuatan (peta) dan diskursus politik tanah air, juga terilhami peribahasa “tidak ada kawan abadi dalam politik melainkan sekedar kepentingan”. Maka pengamat ingin mengatakan, andai ada gerakan pengganggu kinerja KMP oleh kelompok dengan sinyal negatif, asumsi atau dugaan sementara mengarah kepada seorang tokoh yang karakteristiknya sarat dengan metode politik ‘lip service.’
Kesimpulan akhir, 212 tidak bakal mendekati sosok pembohong kuadrat yang sulit tuk insaf, atau dengan kata lain dukungan politis 212 terhadap sosok “common enemy” tegas pengamat nyatakan mustahil, mirip keyakinan publik yang menolak segala metode upaya penolakan terhadap misteri digunakannya “Ijazah Palsu,”.













