Warga mengatakan, tanggul darurat yang dibuat secara gotong-royong dari karung pasir dan batu split memang bersifat sementara. Upaya itu dilakukan untuk menambal bagian benteng yang jebol serta memperkuat struktur yang mulai miring dan rawan terhadap tekanan air. Namun, warga tidak menyalahkan keberadaan tanggul tersebut.
Menurut warga, persoalan utama justru terletak pada kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sepanjang perbatasan D’Amerta Residence dan Podomoro Park. Kondisi ini dinilai memperburuk daya tampung sungai saat curah hujan tinggi.
Warga menyebut, perubahan fungsi lahan di kawasan sekitar turut memengaruhi kondisi sungai. Lahan yang sebelumnya berupa sawah dan kolam secara bertahap beralih menjadi kawasan perumahan dan permukaan keras. Di area belakang sungai, tanah yang semula lebih rendah kini telah diurug hingga ketinggiannya menyamai atap rumah warga D’Amerta Residence.













