Itulah kepemimpinan yang dewasa.
Bukan kepemimpinan yang selalu merasa benar, tetapi kepemimpinan yang cukup kuat untuk melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri.
*PENUTUP*
Indonesia tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap bayang-bayang 1998. Tetapi Indonesia juga tidak boleh kehilangan kewaspadaan.
Sejarah tidak datang untuk menakut-nakuti. Sejarah datang untuk mengingatkan.
1998 mengajarkan bahwa krisis ekonomi dapat berubah menjadi krisis politik ketika kepercayaan publik telah lama terkikis.
2026 memberikan pelajaran yang berbeda: sebuah sistem demokrasi akan diuji bukan ketika keadaan tenang, tetapi ketika tekanan mulai meningkat.
Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa 2026 adalah 1998.
Tetapi jangan pula terlalu percaya diri mengatakan bahwa 1998 mustahil terulang dalam bentuk apa pun. Keduanya sama-sama keliru.













