Meski hanya memiliki lahan pertanian yang terbatas, Jepang tetap melindungi petaninya melalui kebijakan harga yang menguntungkan, dukungan teknologi, penguatan koperasi pertanian, regenerasi petani muda, serta pengelolaan cadangan pangan nasional yang disiplin.
Bagi Jepang, biaya mempertahankan pertanian bukanlah beban ekonomi. Itu adalah biaya kedaulatan.
Mereka memahami bahwa negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya akan selalu berada dalam posisi rentan ketika menghadapi krisis.
Pelajaran tersebut sesungguhnya sangat relevan bagi Indonesia, sebuah negara agraris yang justru menghadapi tekanan serius berupa alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda menjadi petani, serta ketergantungan terhadap sejumlah komoditas pangan strategis dari luar negeri.













