Soedirman memahami bahwa perang bukan hanya soal senjata dan strategi tempur. Perang adalah soal kemampuan bertahan. Dan kemampuan bertahan selalu dimulai dari perut yang terisi.
Karena itu, logistik bukan urusan belakang. Logistik adalah bagian dari strategi.
*Trauma Jepang dan Kesadaran tentang Kedaulatan Pangan*
Apa yang dipahami Soedirman dalam perang gerilya dipahami pula oleh Jepang melalui pengalaman sejarah yang berbeda.
Kekalahan dalam Perang Dunia II meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Jepang. Kelangkaan pangan dan ancaman kelaparan menjadi pengalaman kolektif yang membentuk cara pandang mereka terhadap keamanan nasional.
Sejak saat itu, Jepang mengambil keputusan strategis: pangan tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi.













